RAMADHAN 2026

Hugo Ekitike Ungkap Perjalanan Iman dan Dukungan Liverpool dalam Menjalankan Ibadah Ramadan 2026

Hugo Ekitike Ungkap Perjalanan Iman dan Dukungan Liverpool dalam Menjalankan Ibadah Ramadan 2026
Hugo Ekitike Ungkap Perjalanan Iman dan Dukungan Liverpool dalam Menjalankan Ibadah Ramadan 2026

JAKARTA - Hugo Ekitike berbagi kisah mendalam mengenai pengalamannya menjalani bulan suci Ramadan sebagai Muslim setelah bergabung dengan Liverpool sejak musim panas 2025, menunjukkan bagaimana klub sepak bola besar itu mendukung penuh ibadahnya di tengah jadwal kompetisi yang padat.

Pengakuan Ekitike tentang Identitas dan Ibadah

Dalam wawancara yang dipublikasikan pada 20 Februari 2026, Ekitike secara terbuka menyatakan bahwa ia adalah seorang Muslim dan hakikat Ramadan bagi dirinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk mempererat hubungan dengan Tuhan dan keluarga. Pemain asal Prancis itu mengatakan “Saya Hugo Ekitike dan saya seorang Muslim,” saat diwawancarai melalui kanal resmi Liverpool.

Ekitike menekankan bahwa puasa adalah momen spesial untuk memperbaiki diri dan memperkuat ikatan dengan orang-orang terkasihnya. Menurutnya, ibadah puasa tidak hanya soal menahan lapar tetapi juga meningkatkan kualitas spiritual dan kesempatan untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik.

Bagi Ekitike, Ramadan kali ini menjadi lebih bermakna karena ia merayakannya di tengah lingkungan yang mendukung di Liverpool, berbeda dari pengalaman sebelumnya ketika ia masih bermain di klub lain sebelum pindah ke Anfield.

Adaptasi di Liverpool dan Dukungan Klub

Bergabung dengan Liverpool membuka pengalaman baru bagi Ekitike, karena di klub tersebut dia merasa diterima sepenuhnya, terutama dalam menjalankan kewajiban agamanya. Ekitike menilai suasana di klub sangat inklusif dan penuh dukungan, di mana rekan-rekan satu tim dari berbagai latar belakang membantu proses adaptasinya.

Kehadiran sejumlah pemain Muslim di skuad Liverpool, termasuk nama-nama yang sudah lebih dulu dikenal di Premier League, membuat Ekitike merasa lebih nyaman. Hal ini membantu dirinya dalam menjalankan puasa Ramadan sekaligus memenuhi tuntutan profesional sebagai seorang atlet sepak bola.

Tradisi Keluarga dan Aktivitas Selama Ramadan

Selain soal dukungan klub, Ekitike juga menceritakan bagaimana tradisi buka puasa bersama keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan baginya. Ia sering mengundang kerabat dan teman ke rumahnya untuk berbuka puasa bersama, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat di tengah jadwal latihan dan pertandingan yang padat.

Ekitike menjelaskan bahwa tradisi berbuka bersama tidak hanya mempererat hubungan personal tetapi juga memberi energi spiritual yang dia rasa penting dalam bulan yang penuh berkah ini.

Walaupun tantangan fisik menjalani puasa di tengah kompetisi sepak bola profesional tidak mudah, Ekitike merasa tidak terlalu khawatir. Menurutnya, dengan dukungan yang tepat dari klub dan penyesuaian gaya hidup, menjalaninya tetap memungkinkan tanpa mengurangi performa di lapangan.

Makna Ramadan bagi Pemain Muslim di Sepak Bola Inggris

Kisah Ekitike di Liverpool ini menjadi cerminan bagaimana sepak bola Inggris, khususnya Premier League, semakin membuka ruang bagi pemain Muslim untuk menjalankan ibadah Ramadan meskipun berada dalam tekanan kompetisi tinggi. Kebijakan liga yang masih memberlakukan jeda pendek dalam pertandingan untuk memberi kesempatan berbuka puasa kepada pemain Muslim juga ikut mendukung hal ini.

Tradisi dan dukungan semacam ini menunjukkan pergeseran dalam kultur olahraga profesional di Eropa yang kini lebih mengakomodasi keberagaman latar belakang pemain. Ekitike sendiri menggambarkan Ramadan sebagai bulan yang “indah untuk merasa lebih dekat dengan agama dan keluarga Anda,” yang mencerminkan betapa pentingnya bulan suci ini dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya.

Harapan Ekitike untuk Masa Depan

Melihat pengalaman Ramadan tahun ini, Ekitike berharap bisa terus memperdalam iman serta menjadi contoh bagi pemain lain yang menjalankan ibadah serupa. Ia menilai kesempatan untuk beribadah dengan dukungan penuh dari klub besar seperti Liverpool adalah hal yang langka dan harus dihargai.

Lewat pengakuan dan kisahnya ini, Ekitike juga ingin menunjukkan bahwa identitas agama dan karier sebagai atlet profesional bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling mengorbankan, selama ada pemahaman, dukungan, dan lingkungan yang mendukung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index