JAKARTA - Memilih menu berbuka puasa perlu dilakukan dengan cermat karena jenis makanan tertentu dapat memicu kenaikan gula darah secara drastis dan berdampak pada kesehatan selama Ramadan.
Berbuka puasa menjadi momen yang paling dinanti setelah seharian menahan lapar dan haus. Aneka hidangan seperti gorengan, kolak, minuman manis, dan camilan sering kali tersaji di meja makan dan tampak menggugah selera. Namun, kebiasaan memilih makanan tanpa memperhatikan kandungan gizi dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik serta kenaikan berat badan.
Dosen Program Studi Pendidikan Dokter di Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Fatimah Masyhur, mengingatkan bahwa menu buka puasa yang kurang tepat bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan.
"Pola makan saat berbuka sangat menentukan kondisi tubuh selama Ramadan," katanya seperti dikutip dari umm.ac.id pada Kamis, 26 Februari 2026.
Gorengan Jadi Menu Paling Perlu Dibatasi
Gorengan hampir selalu hadir sebagai hidangan pembuka saat berbuka puasa. Makanan ini digemari karena rasanya gurih dan mudah ditemukan, tetapi kandungan lemak dan kalorinya cukup tinggi.
Fatimah menjelaskan bahwa konsumsi gorengan berlebihan dapat berdampak pada sistem kardiovaskular. Makanan yang digoreng dengan banyak minyak cenderung mengandung lemak jenuh tinggi yang dapat membebani kerja jantung jika dikonsumsi secara rutin.
Selain itu, gorengan sering disantap bersamaan dengan minuman manis atau makanan tinggi gula lainnya. Kombinasi tersebut dapat memperparah lonjakan kadar gula darah setelah tubuh berpuasa seharian.
Minuman dan Takjil Manis Picu Lonjakan Cepat
Menu buka puasa identik dengan rasa manis, mulai dari kolak, sirup, teh manis, es campur hingga berbagai jenis kue. Setelah berpuasa lebih dari 12 jam, tubuh memang memerlukan energi dengan cepat.
Namun, asupan gula sederhana dalam jumlah besar justru dapat menyebabkan kenaikan gula darah secara tajam. Kondisi ini berisiko terutama bagi penderita diabetes atau pradiabetes.
Bahkan pada orang yang sehat sekalipun, lonjakan gula darah yang cepat bisa diikuti penurunan drastis sehingga memicu rasa lemas setelah berbuka puasa.
Menu Seimbang Jadi Kunci Kesehatan Ramadan
Agar tubuh tetap bugar selama menjalani puasa, pemilihan menu buka puasa yang seimbang menjadi hal penting. Susunan menu yang tepat membantu tubuh memulihkan energi tanpa menimbulkan dampak negatif pada metabolisme.
Menu berbuka idealnya terdiri dari karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, atau ubi jalar. Selain itu diperlukan sumber protein hewani maupun nabati seperti ayam tanpa kulit, ikan, telur, tahu, dan tempe.
Sayuran beragam warna juga penting untuk memenuhi kebutuhan serat dan vitamin. Buah-buahan seperti kurma, melon, semangka, atau pisang dapat menjadi pilihan untuk membantu mengembalikan energi setelah puasa.
Protein memiliki peran penting dalam memperbaiki jaringan tubuh, menjaga keseimbangan cairan, serta mendukung sistem imun selama menjalani puasa. Selain itu, kebutuhan cairan juga harus dipenuhi dengan minum air putih minimal delapan gelas setiap hari agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Alternatif Takjil Lebih Sehat dan Aman
Masyarakat tetap dapat menikmati hidangan manis saat berbuka dengan memilih alternatif yang lebih sehat. Beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan antara lain sup buah tanpa santan, bubur kacang hijau dengan gula minimal, kolak pisang dengan pemanis alami seperti madu atau stevia, serta smoothie buah dan sayur tanpa tambahan gula.
Bagi penderita diabetes, asam urat, maupun kondisi kesehatan tertentu, pemilihan menu berbuka puasa perlu dilakukan lebih selektif. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting terutama untuk menyesuaikan pola makan dan jadwal konsumsi obat selama Ramadan.
Dengan memperhatikan komposisi makanan dan menghindari menu tinggi lemak serta gula berlebih, risiko lonjakan gula darah dapat dikurangi sehingga ibadah puasa dapat dijalani dengan kondisi tubuh yang tetap sehat dan bugar.